hemoptysis

Standar

LI case tuberculosis..

kedatangan pasien dengan keluhan utama batuk berminggu-minggu,, kadang disertai dengan batuk berdarah.. biasanya disebut hemoptysis.. apa itu hemoptysis??

Definisi

Batuk yang disertai dengan darah biasa disebut hemoptysis.

Jumlah dan kandungan darah yang dikeluarkan bervariasi, dari hanya darah yang tercampur dalam sputum hingga darah murni dalam jumlah yang banyak.  Hemoptysis yang banyak biasanya dianggap sebagai gejala yang mengancam jiwa dan membutuhkan evaluasi dan penanganan segera.

 

Evaluasi

-     menentukan apakah darah yang dikeluarkan berasal dari saluran respirasi atau bukan. Sumber pendarahan di saluran pernafasan bisa berasal dari bronkus, paru, hidung, dan tenggorokan. Kadang, darah dari hidung dan tenggorokan dapat terhirup dan diludahkan.

Darah yang berasal dari arteri bronchial seringkali menjadi sumber pendarahan massif, menunjukan tekanan perfusi yang lebih tinggi dibandingkan darah pada sirkulasi pulmonary. Sirkulasi bronchial menjadi sumber pendarahan yang mengancam jiwa, misalnya pada pasien bronkiektasis, dimana pembuluh darah seringkali berbelok dan sangat mudah pecah

-     membedakan hemoptysis dan hematemesis (muntah darah). Bahkan jika darah diaspirasi dan kemudian dibatukan, pasien dapat mengatakan darah berasal dari saluran nafas atau saluran cerna.

Penampakan darah juga dapat membantu membedakan : darah yang berasal dari saluran nafas biasanya berwarna merah terang, tercampur dengan dahak berbusa, pH basa, dan mengandung makrofag alveolar yang laden dengan hemosiderin; kebalikannya, darah dari lambung biasanya gelap, mengandung partikel makanan, dan seringkali terjadi pada pasien dengan keluhan lambung dalam waktu lama.

Evaluasi hemoptysis meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan lab (CBC) dan pemeriksaan radiologi.

v Sejumlah kecil hemoptysis biasanya ditemukan pada pasien rawat jalan. Hemoptysis yang banyak biasanya terjadi pada pasien yang mengalami kecelakaan atau pada kasus darurat, yang diketahui memiliki penyakit paru.

v Derajat anemia mungkin mempengaruhi kecepatan tes selanjutnya, dan trombositopenia bisa jadi factor yang menyebabkan hemoptysis. Penanganan anemia, trombositopenia, dan koagulopathy dengan transfusi produk darah yang tepat dibutuhkan dengan segera, bergantung pada status klinis dan derajat keparahan. Sama juga, pengukuran waktu koagulasi sangat penting.

v Pemeriksaan fungsi ginjal dan urinalisis bisa diindikasikan ketika proses sistemik yang menyebabkan sindrom paru-renal.

v Sputum sebaiknya dikumpulkan dan dilakukan kultur dan pewarnaan atau pemeriksaan sitologis. Bergantung pada teridentifikasinya kasus, dan factor resiko yang menyebabkan pendarahan, evaluasi selanjutnya meliputi sumber pendarahannya.

v HRCT dada biasanya menjadi tahap lanjutan jika pasen tidak merokok atau CXR memperlihatkan abnormalitas parenkim, seperti bronkiektasis atau malformasi arteri vena. Pasien denga riwayat merokok atau factor resiko untuk keganasan memerlukan bronkoskopi serat optic. Pada kenyataannya, HRCT dan bronkoskopi seringkali menjadi pelengkap untuk melihat kelainan yang tidak terlihat dari CXR.

v Karena pencarian penyebab dan sumber pendarahan umumnya tidak nyaman bagi pasien dan seringkali mahal, intensitasnya bergantung pada kondisi pasien.

Misalnya, pencarian tempat pendarahan jarang dilakukan pada pasien bronchitis akut, pneumonia, atau supurasi bronkopulmonary.

 

Diagnosis banding

Hemoptysis bisa berasal dari saluran nafas dan parenkim paru.

-     Proses inflamasi (bronchitis dan bronchiectasis) dan neoplasia adalah penyebab utama pendarahan di saluran nafas.

-     Dalam parenkim paru, penyebab utamanya adalah infeksi, seperti tuberculosis, pneumonia, Aspergillus, atau abses paru.

-     Proses inflamasi yang melibatkan paru seperti Wegner’s granulomatosis atau Goodpasture’s syndrome juga sering menjadi penyebab hemoptysis (Fig. 27-16).

-     Pendarahan bisa bersifat iatrogenic, seperti setelah biopsy paru atau ketika kemoterapi untuk transplantasi sumsum tulang yang menimbulkan adanya pendarahan alveolar yang menyebar.

-     Gangguan vascular, seperti emboli paru, malfungsi arteriovena, dan stenosis mitral juga bisa jadi diagnosis banding.

 

Faktor resiko

-       Riwayat merokok

-       Usia lebih dari 40 tahun

 

sumber :

Murray and Nadel’s Textbook of respiratory, 4th ed. 2005

Oxford handbook of respiratory medicine, 1st ed. 2005

About these ads

3 pemikiran pada “hemoptysis

  1. bubu

    mau nanya
    emang kalau ada destruksi kapiler d pembuluh darah misalnya pada TB darahnya bisa d keluarkan melelui sputum??
    bukannya d alveoli tidah ada sel goblet dan d sana tidak ada refleks untuk batuk? jadi bisakah menyebabkan sputum berdarah??

    • dokterzarra

      maaf baru balas..
      pengeluarannya akan bersamaan dengan sputum..
      pembuluh darah yang dirusak sebenarnya bukan pembuluh darah yang ada di alveoli.
      berdasarkan apa yang saya baca, lesi yang terbentuk pada penyakit TBC dapat menyebar melalui pembuluh darah menuju ke dinding bronkiolus atau bronkus dan menyebabkan kebocoran kapiler disana.
      akhirnya, darah yang keluar melalui kapiler dikeluarkan melalui respon batuk dan bercampur dengan sputum.
      proses ini terjadi setelah lesi yang berbentuk caseous necrosis / nekrosis perkijuan berubah menjadi liquifaksi.

      Wallahu alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s