Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Standar

Momen memberi makan si kecil setiap hari kadang bisa jadi sangat menyenangkan karena anak makan dengan lahap, bisa juga jadi waktu yang paling melelahkan, baik buat ayah bunda maupun si kecil. Ada saat dimana si anak tidak mau sama sekali makan, menutup mulutnya rapat-rapat atau berlari-lari kesana kemari saat disuapi. Kondisi ini bisa terjadi sesekali, namun banyak juga ayah bunda yang harus mengalami hal ini setiap kali waktu makan tiba. Padhal, nutrisi yang terkandung dalam makanan sangat dibutuhkan anak untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Karenanya, penting bagi ayah bunda buat mengenali penyebab anak sulit makan dan cara mengatasinya.

Secara umum, ada dua penyebab utama anak sulit makan, yaitu penyebab organik dan non organik. Sebab organik merupakan sebab yang berhubungan dengan organ makan anak, misalnya : sariawan, tumbuh gigi, radang, dll. Sebab non organik meliputi keadaan psikologis anak, suasana hati anak dan ayah bunda, suasana lingkungan, dll. Cek dulu, mungkin saja anak sedang sariawan atau mau tumbuh gigi lalu sesuaikan makanan yang bisa menyamankan dan memenuhi kebutuhan gizinya.

Banyak hal yang dilakukan anak untuk menunjukan bahwa dirinya tidak mau makan.

– Menolak MPASI hanya mau ASI/Susu Formula
Jika menghadapi kondisi seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus dirancang. Memang waktu makannya jadi jauh lebih lama. Misalnya, berikan 1 sendok MPASI setiap jadwal makan tiba dengan konsentrasi makanan yang lebih cair. Setiap hari porsi ini harus ditingkatkan, dari 1 sendok menjadi 2 sendok hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk. Konsistensinya juga sebaiknya ditingkatkan secara perlahan. Setiap minggunya coba disajikan makanan yang sedikit lebih kental dibandingkan sebelumnya. Perlu diingat, jadwal makannya pun harus diberikan secara konstan dan berkesinambungan. Mengapa ini penting? Supaya si kecil bisa dikenalkan dengan keteraturan untuk membentuk kedisiplinan.

– Dilepeh
Jika ini terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 8 bulan, kemungkinan besar terjadi karena refleks anak. Akan tetapi, untuk bayi di atas 8 bulan, ayah bunda yang harus cermat. Apa karena makanannya terlalu asin, terlalu lembek, terlalu banyak, makanannya tidak enak, dan sebagainya. Agar si kecil tidak melakukan penolakan, pandai-pandailah mengatur strategi dengan memvariasikan menu makan anak. Penyajian makanan yang menarik juga penting. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

– Diemut
Anak yang makannya ngemut umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum siap menerima makanan yang terlalu keras atau padat. Ada juga kebiasaan ngemut anak karena asyik bermain hingga lupa masih ada makanan didalam mulutnya atau membiarkan makanannya tanpa upaya untuk mengunyah.
Tips mengatasinya :
• Tunjukkan padanya bagaimana cara mengunyah yang benar, yaitu perlahan-lahan dengan menggerakkan rahang atas dan rahang bawah.
• Bila anak terlalu asyik bermain sehingga lupa mengunyah, minta anak berhenti bermain sampai aktivitas makannya selesai. Jika itu terlalu sulit diterapkan, coba bagi makanannya menjadi beberapa porsi kecil, lalu minta anak untuk menghabiskan 1 porsi sebelum bermain lagi. Tentukan waktu main tidak terlalu lama, misalnya 5 menit, lalu ia harus masuk ke proses makan satu porsi lainnya, dan seterusnya.
• Biasakan anak makan di meja makan tanpa disertai aktivitas lain, seperti nonton TV. Jadikan Nonton TV atau bermain sebagai hadiah setelah ia selesai makan.

– Disembur
Penyebabnya antara lain makanan terasa asing di lidahnya, bosan dengan makanan tersebut, ingin mendapat perhatian dari orang disekelilingnya, atau sekedar suka dengan suara yang ditimbulkan saat menyembur makanan.
Tips Mengatasinya :
• Tak perlu memberi reaksi berlebihan bila si batita menyemburkan makanannya apalagi memarahi. Jangan pula mentertawakan. Lebih baik tanyakan apakah makanannya kurang enak. Kalau ya, lebih baik ganti dengan makanan sejenis. “Oh, Adik enggak mau makan nasi hari ini? Mama punya kentang. Enak, deh!”
• Sebelum mengganti, ajak dia berjanji untuk tidak menyemburkan lagi makanannya. Jika masih tetap menyemburkan makanan penggantinya, tarik dulu makanan tersebut selama sekitar 30 menit, baru kemudian diberikan lagi. Kemungkinan ia sedang tak ingin makan.
• Bila merupakan bagian dari eksplorasinya, katakan pada si kecil, “Lucu, ya, Dek, bunyinya. Tapi makanan itu nanti harus ditelan ya.” Bila si batita melakukannya karena iseng, beri penjelasan bahwa makanan bukan mainan, jadi tak boleh disembur-semburkan. Jangan bosan untuk terus-menerus menjelaskannya pada si kecil agar perilaku ini tak terus berlanjut.

– Dimuntahkan
Perilaku memuntahkan makanan bisa akibat penolakan atau karena adanya masalah pencernaan yang dirasakan anak. Jika muntah disebabkan karena si kecil mencari perhatian dalam mengeskpresikan ketidaksukaannya pada makanan itu, baru bisa dikategorikan sebagai penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang tua dapat memperhatikan kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi muntah maupun sesudah muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan lain semisal diare atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si kecil mengalami masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahlinya.

– Menolak sama sekali
Wujud penolakannya bisa berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat mulutnya, sampai menangis keras setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih banyak karena faktor fisik, seperti sariawan atau radang tenggorokan. Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu kondisi kesehatannya secara umum. Pastikan apakah ia sariawan atau tidak, gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya bermasalah atau tidak, bibirnya pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau tidak. Kalau benar karena kendala fisik, segera konsultasikan ke dokter.
Jika tak ada gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan gerak tutup mulut karena faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia memang tengah mencari perhatian orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak dijumpainya, tak menyukai menunya, atau penampilan makanannya membuat anak kehilangan selera makan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s