Melatih Kecerdasan Anak Lewat Permainan

Standar

Buah hati anda senang melempar, membenturkan, pukul-pukul, menjatuhkan mainan serta benda-benda yg ditemuinya? Tak hanya mainan, kadang barang-barang lain di rumah pun jadi korbannya. Bingung dengan tingkah laku si kecil dan caranya memperlakukan barang-barang di sekitarnya? Jangan khawatir, bunda, semua itu adalah proses bagi si kecil untuk menyempurnakan potensi kecerdasannya. Ayah bunda yanng cerdas dalam menyikapinya akan menjadi kesempatan bagi buah hati kita untuk mencapai tingkat kecerdasan, baik intelektualitas, emosional, dan sosialnya dengan sempurna di usia dini. Yuk kita sama-sama belajar tentang pentingnya bermain bagi buah hati kita..

Bermain bisa diartikan dengan banyak hal. Makna yang paling pas adalah aktivitas yang dikerjakan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa memperhitungkan hasil akhir. Bermain dikerjakan dengan senang, rela, serta tanpa paksaan atau tekanan dari luar atau keharusan.
Anak akan mengalami 4 fase bermain, yaitu :
1. Fase Memberi Nama
Sebelum anak bisa berbicara dan memberikan nama pada mainannya sendiri, ayah bunda yang bisa berperan penting dalam mengenalkan nama pada tiap mainan atau benda yang ada di sekelilingnya. Hal ini dapat membantu anak untuk membedakan serta mengelompokkan benda yang ada di sekitarnya.
2. Fase Memegang
Berikanlah peluang pada anak untuk memegang mainan atau benda-benda di sekelilingnya. Memegang berbeda dengan menyentuh. Memegang berarti memberikan kuasa penuh anak untuk menyentuh, meremas, membawa, menjungkir balikan, membenturkan, dan sebagainya. Dengan memegangnya sempurna, anak bisa memperoleh gambaran menyeluruh tentang bahan, struktur, volume, tekstur, massa dari tiap-tiap benda.
3. Fase Eksplorasi
Inilah fase yang dapat bikin Orangtua mengelus dada. Anak akan mengeksplorasi apa yang dia temui dengan cara dibentur-bentur, dilempar, dijatuhkan, digigit-gigit, diduduki, dan sebagainya. Kadang kita khawatir berlebih ketika benda tersebut diperlakukan secara berlebihan atau tidak tepat oleh anak. Namun, tiap-tiap anak perlu melalui fase ini untuk mengetahui benda-benda di sekelilingnya, diawali pada umur satu tahun dan bertahan sampai usia 3 tahun. Tidak terpuaskannya anak pada fase ini dapat mengakibatkan hutang perkembangan di periode dewasa, dimana mereka akan menunjukan emosinya dengan melempar atau merusak barang-barang yang ada di sekelilingnya.
Cara lain bagi anak dalam mengeksplorasi benda yang dia temui adalah dengan mengkreasikan manfaat dari benda-benda tersebut. Misalnya, botol air mineral tidak hanya berperan jadi wadah, tapi dapat juga jadi mobil-mobilan atau gagang telephone atau sesuatu microphone.
4. Fase Bermain.
Sesudah memasuki umur 4 tahun. sampai puncaknya diantara 5 sampai 6 tahun, anak dengan sendirinya dapat memasuki fase ini. Fase bermain didefinisikan sebagai kemampuan mendayagunakan benda sesuai dengan fungsinya. Mobil-mobilan dapat dipakai mengangkut penumpang atau diajak berkendara, boneka bermacam-macam ukuran dapat dikira sebagai rekan sepermainannya, dan lain-lain. Di periode inilah tipe permainan yang cocok dengan jenis kelamin bisa efisien diperkenalkan. Pada periode ini, anak-anak kita mulai bermain dengan semestinya, menyukai mainan serta memperlakukannya dengan sesuai.
Yuk sekarang kita lihat sudah sampai mana fase bermainnya anak kita. Sudah sesuaikah dengan usianya? biarkan mereka bermain sepuasnya, karena masa kanak-kanak adalah masanya bermain..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s