Merawat Lansia dengan Cinta

Standar

Siapa yang masih tinggal dengan orang tua yang sudah memasuki fase lansia? Coba kita tengok kehidupannya. Bagaimana para lansia memenuhi kebutuhan pribadinya, menjalani hari-harinya, menikmati setiap waktunya? Apakah kakek-nenek atau ayah ibu kita masih bisa memenuhi kebutuhannya sendiri? Apakah mulai bergantung pada orang lain dan lebih banyak berbaring? Apakah sering mengeluh sakit yang tak tentu dan sering mengkonsumsi berbagai obat untuk mengatasi keluhannya? Merawat lansia memiliki keunikan tersendiri, karena meskipun mereka sudah dewasa dan mungkin beberapa tahun lalu merekalah yang merawat kita, tapi seiring bertambahnya usia, kondisi fisik dan psikis mengalami perubahan. Perubahan itu yang membuat orang sekitar, khususnya yang tinggal bersama harus lebih sabar, pengertian, dan empati dengan apa yang dibutuhkan para lansia. Sebenarnya, apa saja kebutuhan lansia yang harus dipenuhi secara seimbang?

  1. Asupan gizi yang seimbang

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan tentang gizi seimbang yang meliputi konsumsi makanan beragam, kebersihan diri, aktivitas fisik, dan menjaga berat badan ideal. Pola makan yang tepat bagi lansia antara lain :

  • Makan sedikit tapi sering
  • Makan secukupnya, tidak sampai kekenyangan
  • Konsumsi banyak buah dan sayur sebagai sumber antioksidan
  • Minum cairan sebanyak 2-2,5 liter per hari, bisa dikombinasikan dengan teh hijau 2-3 cangkir sebagai sumber antioksidan
  • Konsumsi makanan kaya asam lemak omega 3 seperti ikan laut dan kacang-kacangan
  • Kurangi konsumsi garam, gula, dan lemak

Hal yang penting namun sering terabaikan dalam menyediakan makanan bagi lansia adalah menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Secara alamiah, keinginan untuk makan bagi lansia menurun karena fungsi pencernaannya yang kurang optimal. Suasana makan yang menyenangkan, didampingi oleh anak atau cucu, dan melibatkan lansia dalam proses pembuatannya bisa meningkatkan nafsu makannya.

 

  1. Kebersihan dan keamanan diri dan lingkungan

Kondisi fisik seringkali membatasi lansia untuk memenuhi kebutuhan hariannya sendiri. Untuk mandi, membersihkan kotoran (urine dan feces), bahkan mencuci tangan setelah makan kadang perlu bantuan orang lain. Untuk lansia yang mulai menurun penglihatannya, dibutuhkan bantuan orang lain untuk menggunting kuku, merapikan rambut, juga menyiapkan tempat tidur yang nyaman dan bebas dari benda tajam. Keterbatasan gerak juga membuat perpindahan lansia dari satu tempat ke tempat lain dalam rumah menjadi terhambat. Ketidakseimbangan saat berjalan dan kekhawatiran akan jatuh membuat lansia membutuhkan pegangan. Pastikan posisi kamar dan kamar mandi berdekatan sehingga lansia mudah untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu, upayakan lansia tidak tinggal di lantai dua atau lebih yang membuatnya harus naik turun tangga untuk beraktivitas. Penempatan perabot di rumah juga sebaiknya dikondisikan agar aman dan mudah dijangkau.

 

  1. Kebutuhan istirahat/tidur

Sebagian lansia mengalami gangguan tidur atau biasa disebut insomnia. Insomnia yang dialami bervariasi, ada yang kesulitan mengawali tidur, terbangun di malam hari, juga kesulitan untuk kembali tidur. Kondisi ini diperparah dengan kebutuhan buang air kecil yang meningkat sepanjang malam. Padahal, lansia membutuhkan istirahat yang cukup, yaitu 6-8 jam per hari. Istirahat ini penting untuk mengistirahatkan organ tubuh, juga mempertahankan fungsi otak untuk berpikir, mengingat, dan mengkoordinasikan bagian tubuh lainnya. Untuk mendukung istirahatnya, pastikan lansia tidur dengan kondisi yang nyaman, dengan cara berikut ini :

  • Siapkan kamar yang bersih dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik
  • Sediakan selimut yang hangat atau kipas angin sesuai kebutuhan dan kenyamanan
  • Sediakan air minum di tempat yang mudah dijangkau
  • Biasakan menemani lansia sesaat sebelum tidur untuk berbincang dan memenuhi kebutuhan psikologisnya supaya lansia bisa tidur dengan tenang

 

  1. Aktivitas fisik, spiritual, dan  sosial

Coba kita amati apa yang dilakukan orang tua kita sepanjang hari di rumah? Coba bandingkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan mereka beberapa tahun silam? Apakah ada perubahan?

Keterbatasan fisik yang terjadi menghambat lansia untuk melakukan berbagai aktivitas. Tapi keinginan untuk melakukan berbagai aktivtas seperti saat muda tentu saja ada. Di samping itu, aktivitas fisik, spiritual, dan sosial dapat menjaga kualitas hidup lansia, memperlambat penurunan fungsi otak, dan mencegah kepikunan. Untuk menjembatani kebutuhan dan keterbatasan yang dialami lansia, beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain :

  • Menyimpan alat makan, mandi, dan kebutuhan lainnya di tempat yang mudah dijangkau
  • Menyiapkan alat yang mendukung aktivitas spiritualnya, seperti alat sholat, al-qur’an berukuran besar (sesuaikan dengan penglihatannya), dan media untuk mendengarkan murattal atau ceramah.
  • Memudahkan akses keluar rumah dari kamarnya, agar lansia bisa berjemur di pagi hari, berjalan santai di depan rumah, dan menyapa tetangga.
  • Mencari informasi adanya posbindu, pengajian ibu/bapak, atau kumpul lansia sebagai media interaksi lansia dengan lansia lainnya.

lansia bahagia

  1. Komunikasi dan kasih sayang

Ini poin terpenting yang sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga. Tinggal bersama lansia tak hanya sekedar menyediakan tempat tinggal dan makanan yang layak. Namun, kita merawat fisik dan jiwanya agar senantiasa hidup dan bersemangat selama Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Komunikasi yang dibangun penting karena fitrahnya lansia senang menasihati dan didengarkan. Luangkan waktu secara rutin untuk mendengarkan dan berbagi cerita dapat membantu mencegah kepikunan dan menjaga kesehatan jiwanya. Lansia yang jarang diajak berbincang memiliki resiko stress dan depresi yang lebih tinggi karena perasaan kesepian, kecewa dengan diri sendiri, dan takut akan kematian.

 

Upaya terbaik dalam merawat lansia berpengaruh terhadap kualitas kesehatan fisik dan jiwanya. Saat jiwa tidak terpenuhi kebutuhannya, baik secara psikologis dalam bentuk perhatian keluarga, juga secara spiritual, lansia sangat rentan menghadapi stress. Keadaan ini memicu munculnya berbagai penyakit metabolik dan kronis, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, juga penyakit kanker. Stres juga seringkali menimbulkan munculnya keluhan subjektif seperti jantung berdebar, nyeri atau pegal di beberapa bagian tubuh, mual atau nyeri ulu hati, serta sakit kepala. Untuk mengatasi keluhan dan penyakitnya, banyak lansia yang mengkonsumsi berbagai macam obat karena keinginan sendiri ataupun berdasarkan resep dokter. Sebelum terjebak pada penyakit kronis dan ketergantungan obat-obatan, alangkah baiknya jika kita mengupayakan perawatan yang baik bagi lansia yang tinggal bersama kita. Dengan memenuhi kebutuhan fisik dan jiwanya, semoga bisa menyehatkan para lansia dan menurunkan angka kesakitan. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s