Kenapa Periksa Gigi Harus 6 Bulan Sekali?

Standar

Selama bulan Juli, Klinik Pratama KITA memberikan promo yang sebaiknya jangan sampai anda lewatkan. Gratis konsultasi dan pemeriksaan gigi bagi siapapun, tanpa syarat dan ketentuan, yang penting selama bulan Juli ya. Kenapa jangan sampai dilewatkan, karena sebagian besar masyarakat Indonesia jarang sekali memeriksakan diri ke dokter gigi. Alasannya variatif, karena sibuk atau malas ke dokter gigi, ada yang takut dengan dokter gigi, ada juga yang menganggap ke dokter gigi adalah hal yang sangat tersier, bukan kebutuhan, tidak terjangkau, dan merasa tidak perlu merawat gigi dan mulutnya dengan baik. Padahal, saran dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) sebaiknya memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali. Kenapa harus enam bulan sekali?

  1. Cek gigi secara rutin memungkinkan deteksi masalah gigi dan gusi sejak dini. Artinya, jika terindikasi misalnya muncul lubang kecil di gigi, dokter gigi bisa segera melakukan penambalan agar gigi tidak sampai keropos. Penanganan dini justru akan menghemat biaya pengobatan dibanding pada saat kondisi gigi sudah parah.
  2. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi juga berfungsi sebagai deteksi dini untuk mengamati kemungkinan munculnya penyakit serius lain pada rongga mulut, termasuk kanker. Dokter gigi bisa memberikan saran pada pasien untuk menemui dokter spesialis lain jika diperlukan pemeriksaan lanjutan.
  3. Melatih diri untuk tidak trauma dengan penanganan masalah gigi. Saat ini teknologi dalam kedokteran gigi berkembang pesat. Salah satunya adalah upaya untuk mengurangi efek trauma pada pasien selama tindakan perawatan gigi dengan rutin melakukan pemeriksaan dan pemberian tindakan yang bertahap. Harapannya, pasien tidak lagi merasakan rasa sakit berlebihan pada saat perawatan gigi, sehingga kekhawatiran pasien untuk berobat ke dokter gigi bias diatasi.

 

Sudah kebayang kan pentingnya ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali?

 

Ke dokter gigi tidak berarti harus ada tindakan medis seperti pencabutan atau penambalan. Jika teratur diperiksakan dan dijaga dengan menyikat gigi minimal 2 kali sehari, kondisi gigi akan terjaga dan hanya diberikan rekomendasi untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut saja. Jika ternyata ditemukan adanya kerusakan, setidaknya kerusakannya diketahui sejak dini.

 

Pernah dengar istilah tambal permanen dan tambal sementara?

Sepintas orang awam akan berpikir kenapa harus tambal sementara ya, boleh minta langsung permanen aja tambalannya ga, ya?

Tambalan sementara dilakukan untuk gigi berlubang yang sudah mengalami kerusakan akar. Jadi sebenarnya yang dilakukan dokter gigi adalah perawatan akarnya, kemudian ditutup oleh tambalan sementara untuk beberapa hari ke depan selama obat yang diberikan bereaksi, dan pasien harus kontrol lagi sesuai saran dokter gigi. Karenanya, jika diberikan tambalan sementara, baiknya segera kembali ke dokter gigi ya, jangan merasa cukup dengan tambalan yang sudah dipasang.

 

Kenapa harus ditambal? Cabut saja gigi yang berlubang.

Banyak  pasien yang minta dicabut saja giginya, biar tidak perlu ditambal, apalagi dengan tambalan sementara, apalagi berulang-ulang ditambalnya. Tahukah anda, setiap gigi punya fungsinya masing-masing. Keberadaan setiap gigi memberikan kemudahan bagi kita untuk bisa mengigit, mengunyah, dan melumatkan makanan dengan baik. Semakin banyak gigi yang dicabut, semakin buruk fungsi pengolahan makanan dalam mulut, berpengaruh terhadap nafsu makan, kesehatan saluran cerna,  bahkan kecantikan wajah. Karenanya, dokter gigi akan berusaha mempertahankan gigi yang berlubang, retak, atau patah supaya kembali berfungsi dengan baik. Kecuali jika tinggal sisa akar ya, walaupun sepintas sudah tidak ada giginya, sisa akar tetap harus dicabut, karena rentan infeksi dan mengganggu kesehatan rongga mulut secara keseluruhan.

 

Pernah membersihkan karang gigi (scaling)? Lumayan menguras dompet ya biayanya?

karang gigi berasal dari plak yang mengeras dan dibiarkan. Plak terbentuk akibat sisa makanan yang menempel dan tidak dibersihkan langsung sebelum tidur. Jika kita rutin memeriksakan gigi dan menjaga kebersihan gigi setiap hari, agenda membersihkan karang gigi (scaling) tidak dibutuhkan lagi.

 

 

Dengan konsultasi dan dilakukan pemeriksaan, kita jadi tahu, bagaimana kondisi gigi dan mulut kita, ada yang rusak atau terganggu fungsinya atau tidak, apakah perlu ada obat atau penanganan khusus, jika diperlukan, berapa biaya dan lama penanganannya,  jika biayanya besar, bolehkah ditunda dan dijadwalkan di lain waktu atau harus segera. Semua informasi ini bisa didapatkan jika anda mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke dokter gigi. Di Klinik Pratama KITA, konsultasi dan pemeriksaan giginya gratis ya sepanjang Bulan Juli, jadi jangan sampai ketinggalan ya.

promo juli

 

 

 

Happy Mom, Happy Child

Standar

Hari pertama jaga habis libur panjang lebaran, datang pasien anak seusia fath yang mau cabut jahitan. luka bekas jatuh keserempet motor melintang didahinya yang mungil. Alhamdulillah sebagian jahitan sudah dicabut beberapa hari sebelumnya, menyisakan dua jahitan yang membuat drama mencabut jahitan g terlalu panjang. energi anak usia 3 tahun ini luar biasa, menangis, menendang, bahkan nyaris memukul kedua orang tuanya karena takut dan tidak mau diapa-apakan lukanya. Dengan bermodal dua mainan mobil punya fath dan dialog dengan ayah bundanya, akhirnya proses mencabut jahitan pun tuntas. fiuh, PR banget kalo tindakan dengan anak kecil. Bukan karena g suka sikap mereka yang menyulitkan, tapi karena kita harus berada tepat di tengah, antara empati dengan perasaannya dan keyakinan untuk melakukan tindakan yang memang mereka butuhkan. kalo mereka ga paham, wajar, mereka nangis apalagi mengamuk, wajar. proses jatuh, berdarah-darah, menjahit luka, sampai mengganti perban tiga hari sekali dalam waktu dua pekan ke belakang pasti meninggalkan trauma tersendiri.

beres drama pencabutan, sang ibu jadi curhat banyak tentang anaknya, tumbuh kembangnya, kemampuan bicara, dan sosialnya, hiperaktifnya dan kekhawatirannya tentang resiko ADHD (Attention Deficit Hiperactive Disorder) karena sang anak sangat aktif dan sulit diam. ini kejadian kedua kalinya dijahit karena kelincahannya. setelah ngobrol panjang tentang kondisi anak, sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anaknya tumbuh normal sesuai usia. berbagai aspek perkembangan tercapai dengan baik. Kekhawatiran ibu muncul karena celotehan sanak saudara saat mudik kemarin. ternyata isu baper dengan celotehan orang lain saat berkumpul di musim lebaran itu benar ya. saya yang tipikalnya cuek memang tidak pernah ambil pusing dengan berat badan fath, apa yang fath sudah bisa dan belum bisa di depan orang lain. Karena setiap pencapaian anak pasti emaknya yang tahu, dan belum tentu anak mau “show off” di depan orang lain. akhirnya diskusi beralih dari tumbuh kembang anak menjadi tips anti galau dan baper ala emak-emak.

mudah-mudahan ibunya makin happy membersamai anaknya tumbuh dan berkembang, anaknya pun tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, dan cerdas.. aamiin..

sumber gambar : pinterest.com

 

19702063_1474114949277240_4380536304835749631_n

Merawat Lansia dengan Cinta

Standar

Siapa yang masih tinggal dengan orang tua yang sudah memasuki fase lansia? Coba kita tengok kehidupannya. Bagaimana para lansia memenuhi kebutuhan pribadinya, menjalani hari-harinya, menikmati setiap waktunya? Apakah kakek-nenek atau ayah ibu kita masih bisa memenuhi kebutuhannya sendiri? Apakah mulai bergantung pada orang lain dan lebih banyak berbaring? Apakah sering mengeluh sakit yang tak tentu dan sering mengkonsumsi berbagai obat untuk mengatasi keluhannya? Merawat lansia memiliki keunikan tersendiri, karena meskipun mereka sudah dewasa dan mungkin beberapa tahun lalu merekalah yang merawat kita, tapi seiring bertambahnya usia, kondisi fisik dan psikis mengalami perubahan. Perubahan itu yang membuat orang sekitar, khususnya yang tinggal bersama harus lebih sabar, pengertian, dan empati dengan apa yang dibutuhkan para lansia. Sebenarnya, apa saja kebutuhan lansia yang harus dipenuhi secara seimbang?

  1. Asupan gizi yang seimbang

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan tentang gizi seimbang yang meliputi konsumsi makanan beragam, kebersihan diri, aktivitas fisik, dan menjaga berat badan ideal. Pola makan yang tepat bagi lansia antara lain :

  • Makan sedikit tapi sering
  • Makan secukupnya, tidak sampai kekenyangan
  • Konsumsi banyak buah dan sayur sebagai sumber antioksidan
  • Minum cairan sebanyak 2-2,5 liter per hari, bisa dikombinasikan dengan teh hijau 2-3 cangkir sebagai sumber antioksidan
  • Konsumsi makanan kaya asam lemak omega 3 seperti ikan laut dan kacang-kacangan
  • Kurangi konsumsi garam, gula, dan lemak

Hal yang penting namun sering terabaikan dalam menyediakan makanan bagi lansia adalah menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Secara alamiah, keinginan untuk makan bagi lansia menurun karena fungsi pencernaannya yang kurang optimal. Suasana makan yang menyenangkan, didampingi oleh anak atau cucu, dan melibatkan lansia dalam proses pembuatannya bisa meningkatkan nafsu makannya.

 

  1. Kebersihan dan keamanan diri dan lingkungan

Kondisi fisik seringkali membatasi lansia untuk memenuhi kebutuhan hariannya sendiri. Untuk mandi, membersihkan kotoran (urine dan feces), bahkan mencuci tangan setelah makan kadang perlu bantuan orang lain. Untuk lansia yang mulai menurun penglihatannya, dibutuhkan bantuan orang lain untuk menggunting kuku, merapikan rambut, juga menyiapkan tempat tidur yang nyaman dan bebas dari benda tajam. Keterbatasan gerak juga membuat perpindahan lansia dari satu tempat ke tempat lain dalam rumah menjadi terhambat. Ketidakseimbangan saat berjalan dan kekhawatiran akan jatuh membuat lansia membutuhkan pegangan. Pastikan posisi kamar dan kamar mandi berdekatan sehingga lansia mudah untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu, upayakan lansia tidak tinggal di lantai dua atau lebih yang membuatnya harus naik turun tangga untuk beraktivitas. Penempatan perabot di rumah juga sebaiknya dikondisikan agar aman dan mudah dijangkau.

 

  1. Kebutuhan istirahat/tidur

Sebagian lansia mengalami gangguan tidur atau biasa disebut insomnia. Insomnia yang dialami bervariasi, ada yang kesulitan mengawali tidur, terbangun di malam hari, juga kesulitan untuk kembali tidur. Kondisi ini diperparah dengan kebutuhan buang air kecil yang meningkat sepanjang malam. Padahal, lansia membutuhkan istirahat yang cukup, yaitu 6-8 jam per hari. Istirahat ini penting untuk mengistirahatkan organ tubuh, juga mempertahankan fungsi otak untuk berpikir, mengingat, dan mengkoordinasikan bagian tubuh lainnya. Untuk mendukung istirahatnya, pastikan lansia tidur dengan kondisi yang nyaman, dengan cara berikut ini :

  • Siapkan kamar yang bersih dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik
  • Sediakan selimut yang hangat atau kipas angin sesuai kebutuhan dan kenyamanan
  • Sediakan air minum di tempat yang mudah dijangkau
  • Biasakan menemani lansia sesaat sebelum tidur untuk berbincang dan memenuhi kebutuhan psikologisnya supaya lansia bisa tidur dengan tenang

 

  1. Aktivitas fisik, spiritual, dan  sosial

Coba kita amati apa yang dilakukan orang tua kita sepanjang hari di rumah? Coba bandingkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan mereka beberapa tahun silam? Apakah ada perubahan?

Keterbatasan fisik yang terjadi menghambat lansia untuk melakukan berbagai aktivitas. Tapi keinginan untuk melakukan berbagai aktivtas seperti saat muda tentu saja ada. Di samping itu, aktivitas fisik, spiritual, dan sosial dapat menjaga kualitas hidup lansia, memperlambat penurunan fungsi otak, dan mencegah kepikunan. Untuk menjembatani kebutuhan dan keterbatasan yang dialami lansia, beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain :

  • Menyimpan alat makan, mandi, dan kebutuhan lainnya di tempat yang mudah dijangkau
  • Menyiapkan alat yang mendukung aktivitas spiritualnya, seperti alat sholat, al-qur’an berukuran besar (sesuaikan dengan penglihatannya), dan media untuk mendengarkan murattal atau ceramah.
  • Memudahkan akses keluar rumah dari kamarnya, agar lansia bisa berjemur di pagi hari, berjalan santai di depan rumah, dan menyapa tetangga.
  • Mencari informasi adanya posbindu, pengajian ibu/bapak, atau kumpul lansia sebagai media interaksi lansia dengan lansia lainnya.

lansia bahagia

  1. Komunikasi dan kasih sayang

Ini poin terpenting yang sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga. Tinggal bersama lansia tak hanya sekedar menyediakan tempat tinggal dan makanan yang layak. Namun, kita merawat fisik dan jiwanya agar senantiasa hidup dan bersemangat selama Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Komunikasi yang dibangun penting karena fitrahnya lansia senang menasihati dan didengarkan. Luangkan waktu secara rutin untuk mendengarkan dan berbagi cerita dapat membantu mencegah kepikunan dan menjaga kesehatan jiwanya. Lansia yang jarang diajak berbincang memiliki resiko stress dan depresi yang lebih tinggi karena perasaan kesepian, kecewa dengan diri sendiri, dan takut akan kematian.

 

Upaya terbaik dalam merawat lansia berpengaruh terhadap kualitas kesehatan fisik dan jiwanya. Saat jiwa tidak terpenuhi kebutuhannya, baik secara psikologis dalam bentuk perhatian keluarga, juga secara spiritual, lansia sangat rentan menghadapi stress. Keadaan ini memicu munculnya berbagai penyakit metabolik dan kronis, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, juga penyakit kanker. Stres juga seringkali menimbulkan munculnya keluhan subjektif seperti jantung berdebar, nyeri atau pegal di beberapa bagian tubuh, mual atau nyeri ulu hati, serta sakit kepala. Untuk mengatasi keluhan dan penyakitnya, banyak lansia yang mengkonsumsi berbagai macam obat karena keinginan sendiri ataupun berdasarkan resep dokter. Sebelum terjebak pada penyakit kronis dan ketergantungan obat-obatan, alangkah baiknya jika kita mengupayakan perawatan yang baik bagi lansia yang tinggal bersama kita. Dengan memenuhi kebutuhan fisik dan jiwanya, semoga bisa menyehatkan para lansia dan menurunkan angka kesakitan. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

 

Ramadhan Sehat, Ibadah Optimal

Standar

Kesehatan adalah kenikmatan yang kadang luput untuk kita syukuri. Keadaan tubuh yang sehat menjadi modal yang utama dalam menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan. Karena saat sakit, kondisi tubuh lemah dan tidak mampu shaum, konsentrasi ibadah yang lain pun menjadi terganggu. Karenanya, bersyukurlah, atas nikmat sehat yang bisa kita rasakan sepanjang Ramadhan, nikmat dalam menikmati berbagai makanan yang masuk ke perut saat sahur dan berbuka, nikmatnya tubuh yang ringan saat rukuk dan sujud, nikmatnya melantunkan ayat suci al-qur’an tanpa suara serak, batuk, atau mata yang perih dan lelah.

Rangkaian aktivitas sepanjang bulan Ramadhan biasanya berbeda dengan hari-hari biasanya. Pola makan yang bergeser menjadi waktu sahur dan berbuka tentu berpengaruh terhadap aktivitas lainnya. Aktivitas malam yang baiknya diisi dengan shalat tarawih/tahajud, tilawah, dan berdzikir serta waktu makan sebelum adzan shubuh berkumandang tentu mengurangi jam istirahat kita. Karenanya, alangkah baik jika kita menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di siang hari dan tidak mengisi waktu malam dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Pastikan malam yang kita lalui di sepanjang Ramadhan optimal untuk beribadah dan istirahat, memenuhi kebutuhan jiwa dan raga kita secara seimbang. Hal ini penting agar kita tetap bisa beraktivitas dengan baik di siang hari meskipun dalam keadaan berpuasa.

Keadaan shaum sejak waktu shubuh hingga petang juga mempengaruhi kecenderungan kita terhadap makanan. Setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, kadang hawa nafsu mendorong kita untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Makan berlebihan, apalagi jika mengandung garam, gula, atau lemak yang tinggi akan menyebabkan kesehatan tubuh menurun. Tubuh menjadi mudah lelah, berat badan tidak terkontrol, serta daya tahan tubuh menurun membuat ibadah kita di bulan Ramadhan menjadi terganggu. Karenanya, bijak memilih asupan saat sahur dan berbuka dapat menjaga tubuh kita agar tetap sehat dan mendukung optimalnya ibadah kita di Bulan Ramadhan.

Gizi Seimbang, Tak Sekedar Konsumsi 4 Sehat 5 Sempurna

Standar

Jika ditanya apa yang disebut gizi seimbang, anak sekolah akan menjawab dengan semangat, empat sehat lima sempurna. Jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada ibu muda yang punya anak usia 6-24 bulan, mungkin akan dijawab menu empat bintang. Tapi, ternyata, konferensi pangan sedunia di Roma pada tahun 1992 merekomendasikan pedoman gizi seimbang yang terdiri dari empat pilar gizi seimbang, menggantikan slogan “4 sehat 5 sempurna” yang sudah sering kita dengar selama ini.

 Apa yang dimaksud dengan empat pilar gizi seimbang?

  1. Mengkonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktivitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan normal

4 pilar gizi

Gizi seimbang saat ini tidak hanya didefinisikan dengan apa yang kita makan, tapi mencakup aspek kebersihan yang mendukung pada kesehatan, aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, serta terjaganya berat badan yang ideal. Konsumsi makanan pun ditekankan keberagamannya, karena hal ini mendukung tercapainya kecukupan gizi dan kebutuhan vitamin dan mineral yang terkandung dalam berbagai jenis makanan. Kita harus bersyukur karena Indonesia memiliki banyak variasi pangan, mulai dari karbohidrat, protein, juga sayur dan buah-buahan. Keberagaman ini juga mendukung program diversifikasi pangan yang mendorong masyarakat untuk menggunakan bahan pokok lain seperti ubi, singkong, dan jagung sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi.

Perilaku hidup bersih yang selaras dengan gizi seimbang terdiri dari aspek kebersihan dalam pengolahan pangan, penyajian makanan, serta kebersihan tangan dan alat makan yang kita gunakan. Perilaku hidup bersih dapat menurunkan resiko penyakit infeksi pencernaan dan berbagai penyakit lainnya. Cuci tangan pakai sabun di setiap kali akan bersentuhan dengan makanan dan setelah keluar dari kamar mandi menjadi poin penting dari perilaku hidup bersih.

Perkembangan teknologi saat ini berpengaruh terhadap aktivitas fisik yang rendah. Berbagai alat elektronik diciptakan untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, juga membuat kita jarang berpindah tempat atau bergerak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Akhirnya pola hidup ini membuat sebagian manusia mengalami kegemukan dan meningkatkan resiko berbagai penyakit metabolik, seperti darah tinggi, hipertensi, dan penyakit jantung.

Berat badan yang ideal menjadi cerminan dari keseimbangan gizi, dimana konsumsi makanan kita sesuai dengan kebutuhan kita. Penambahan dan pengurangan berat badan masih wajar terjadi dalam rentang berat badan yang ideal. Untuk menghitungnya, kita bisa menggunakan rumus indeks massa tubuh (IMT), yaitu

  IMT = Berat badan (kg) / [ tinggi badan (m) x tinggi badan (m)]

obesitas

Jika indeks massa tubuh kita kurang dari yang seharusnya atau melebihi batas normal, alangkah baiknya bila kita mulai mengoreksi pola makan dan aktivitas kita sehingga tercapai kecukupan gizi dan berat badan yang ideal

 

Mengajarkan Toilet Training pada Anak

Standar

Melatih si kecil menggunakan toilet dan meninggalkan kebiasaannya menggunakan popok merupakan salah satu hal menantang yang harus dilalui oleh setiap orangtua. Sayangnya, sebagian orang tua kurang menyadari kapan waktu yang tepat untuk mulai membiasakan anak berhenti menggunakan popok lagi. Padahal, proses memahamkan anak tentang toilet training ini membutuhkan waktu yang lama, kesabaran yang ekstra juga trial and error yang bisa terjadi berulang kali. Karenanya, makin baik pengetahuan ayah bunda tentang toilet training, makin mudah mengupayakannya. Jangan sampai terlambat ya..^-^

Pastikan balita siap. Sebagian besar anak menunjukkan tanda-tanda kesiapannya di usia antara 18-24 bulan, namun ada beberapa anak yang lebih awal atau lebih lambat dari itu. Biasanya anak laki-laki membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mempelajari toilet training dibandingkan anak perempuan. Yang terpenting adalah dianjurkan agar orang tua mengenali tanda-tanda kesiapan buah hatinya. Umumnya balita bisa diajak toilet training setelah otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih, ditandai dengan popoknya yang kering selama 2-3 jam. Kesiapan iniditunjang dengan kemampuannya untuk dapat duduk tegak, membuka-memakai celana, memahami intruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya.

Biasakan kegiatan kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia buang air kecil dan besar di pispot atau potty chair. Biarkan ia merasa nyaman menggunakannya. Ceritakan secara sederhana cara buang air kecil dan besar serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, dan belikan ia celana dalam sebagai ganti dari popoknya sehingga dia merasa sudah cukup besar.
Anda pasti bisa mengenali kapan si kecil merasa ingin buang air kecil. Bila sudah terlihat tanda-tanda ia ingin buang air, ajak si kecil ke toilet. Meskipun dia belum akan pipis, tapi kamar mandi akan mengingatkan ia serta memberi sugesti untuk buang air kecil. Jika ia terlanjur mengompol di celana, jangan pernah memarahinya, tapi ajaklah ke toilet untuk membersihkannya, agar ia bisa mengerti bahwa kotoran harus segera dibersihkan dan dibuang ke toilet.

Atur jadwal. Mengatur asupan cairan dan makanan ke tubuh balita diperlukan untuk mengatur interval ke kamar mandi. Amati jadwal siklus buang air kecil dan besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 9 pagi dan pipis 1 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat. Bangun juga kebiasaan-kebiasaan kecil untuknya, misalnya saat ia baru bangun tidur dan akan tidur, ajaklah ia untuk pergi ke toilet dulu. Hal ini akan menjadi rutinitas baru baginya.

Konsisten. Pastikan pula anggota keluarga lain mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang Anda terapkan bila anda sedang tidak bersama si kecil. Beri informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipisnya. Konsisten membimbing balita akan membuatnya cepat paham dan makin terampil memakai toilet.

Pakai cara seru. Lambungkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda dapat memasang memasang papan target untuk balita menempel stiker tanda berhasil memakai pispot/toilet dengan benar. Atau menempatkan boneka favorit sebagai teman ketika pipis atau pup agar ia gembira dan selalu bersemangat melakukan toilet training.

Beri pujian. Hadiahi dengan pujian ketika ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar, karena hal tersebut akan membuatnya merasa senang dan semakin termotivasi. Jadikan toilet training sebagai sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi ‘kegagalan’ hindari untuk menghukumnya. Wajah marah dan kecewa Anda, hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.

Usahakan Tetap Santai dan Tidak Emosi. Jangan terlalu menekan si kecil agar lulus toilet training secepatnya. Jika ia melakukan kesalahan, jangan pernah memarahinya, karena sebagai orangtua harus bisa mengerti dan memahami anak ketimbang memberikan perintah-perintah.

Melatih Kecerdasan Anak Lewat Permainan

Standar

Buah hati anda senang melempar, membenturkan, pukul-pukul, menjatuhkan mainan serta benda-benda yg ditemuinya? Tak hanya mainan, kadang barang-barang lain di rumah pun jadi korbannya. Bingung dengan tingkah laku si kecil dan caranya memperlakukan barang-barang di sekitarnya? Jangan khawatir, bunda, semua itu adalah proses bagi si kecil untuk menyempurnakan potensi kecerdasannya. Ayah bunda yanng cerdas dalam menyikapinya akan menjadi kesempatan bagi buah hati kita untuk mencapai tingkat kecerdasan, baik intelektualitas, emosional, dan sosialnya dengan sempurna di usia dini. Yuk kita sama-sama belajar tentang pentingnya bermain bagi buah hati kita..

Bermain bisa diartikan dengan banyak hal. Makna yang paling pas adalah aktivitas yang dikerjakan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa memperhitungkan hasil akhir. Bermain dikerjakan dengan senang, rela, serta tanpa paksaan atau tekanan dari luar atau keharusan.
Anak akan mengalami 4 fase bermain, yaitu :
1. Fase Memberi Nama
Sebelum anak bisa berbicara dan memberikan nama pada mainannya sendiri, ayah bunda yang bisa berperan penting dalam mengenalkan nama pada tiap mainan atau benda yang ada di sekelilingnya. Hal ini dapat membantu anak untuk membedakan serta mengelompokkan benda yang ada di sekitarnya.
2. Fase Memegang
Berikanlah peluang pada anak untuk memegang mainan atau benda-benda di sekelilingnya. Memegang berbeda dengan menyentuh. Memegang berarti memberikan kuasa penuh anak untuk menyentuh, meremas, membawa, menjungkir balikan, membenturkan, dan sebagainya. Dengan memegangnya sempurna, anak bisa memperoleh gambaran menyeluruh tentang bahan, struktur, volume, tekstur, massa dari tiap-tiap benda.
3. Fase Eksplorasi
Inilah fase yang dapat bikin Orangtua mengelus dada. Anak akan mengeksplorasi apa yang dia temui dengan cara dibentur-bentur, dilempar, dijatuhkan, digigit-gigit, diduduki, dan sebagainya. Kadang kita khawatir berlebih ketika benda tersebut diperlakukan secara berlebihan atau tidak tepat oleh anak. Namun, tiap-tiap anak perlu melalui fase ini untuk mengetahui benda-benda di sekelilingnya, diawali pada umur satu tahun dan bertahan sampai usia 3 tahun. Tidak terpuaskannya anak pada fase ini dapat mengakibatkan hutang perkembangan di periode dewasa, dimana mereka akan menunjukan emosinya dengan melempar atau merusak barang-barang yang ada di sekelilingnya.
Cara lain bagi anak dalam mengeksplorasi benda yang dia temui adalah dengan mengkreasikan manfaat dari benda-benda tersebut. Misalnya, botol air mineral tidak hanya berperan jadi wadah, tapi dapat juga jadi mobil-mobilan atau gagang telephone atau sesuatu microphone.
4. Fase Bermain.
Sesudah memasuki umur 4 tahun. sampai puncaknya diantara 5 sampai 6 tahun, anak dengan sendirinya dapat memasuki fase ini. Fase bermain didefinisikan sebagai kemampuan mendayagunakan benda sesuai dengan fungsinya. Mobil-mobilan dapat dipakai mengangkut penumpang atau diajak berkendara, boneka bermacam-macam ukuran dapat dikira sebagai rekan sepermainannya, dan lain-lain. Di periode inilah tipe permainan yang cocok dengan jenis kelamin bisa efisien diperkenalkan. Pada periode ini, anak-anak kita mulai bermain dengan semestinya, menyukai mainan serta memperlakukannya dengan sesuai.
Yuk sekarang kita lihat sudah sampai mana fase bermainnya anak kita. Sudah sesuaikah dengan usianya? biarkan mereka bermain sepuasnya, karena masa kanak-kanak adalah masanya bermain..