Merawat Lansia dengan Cinta

Standar

Siapa yang masih tinggal dengan orang tua yang sudah memasuki fase lansia? Coba kita tengok kehidupannya. Bagaimana para lansia memenuhi kebutuhan pribadinya, menjalani hari-harinya, menikmati setiap waktunya? Apakah kakek-nenek atau ayah ibu kita masih bisa memenuhi kebutuhannya sendiri? Apakah mulai bergantung pada orang lain dan lebih banyak berbaring? Apakah sering mengeluh sakit yang tak tentu dan sering mengkonsumsi berbagai obat untuk mengatasi keluhannya? Merawat lansia memiliki keunikan tersendiri, karena meskipun mereka sudah dewasa dan mungkin beberapa tahun lalu merekalah yang merawat kita, tapi seiring bertambahnya usia, kondisi fisik dan psikis mengalami perubahan. Perubahan itu yang membuat orang sekitar, khususnya yang tinggal bersama harus lebih sabar, pengertian, dan empati dengan apa yang dibutuhkan para lansia. Sebenarnya, apa saja kebutuhan lansia yang harus dipenuhi secara seimbang?

  1. Asupan gizi yang seimbang

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan tentang gizi seimbang yang meliputi konsumsi makanan beragam, kebersihan diri, aktivitas fisik, dan menjaga berat badan ideal. Pola makan yang tepat bagi lansia antara lain :

  • Makan sedikit tapi sering
  • Makan secukupnya, tidak sampai kekenyangan
  • Konsumsi banyak buah dan sayur sebagai sumber antioksidan
  • Minum cairan sebanyak 2-2,5 liter per hari, bisa dikombinasikan dengan teh hijau 2-3 cangkir sebagai sumber antioksidan
  • Konsumsi makanan kaya asam lemak omega 3 seperti ikan laut dan kacang-kacangan
  • Kurangi konsumsi garam, gula, dan lemak

Hal yang penting namun sering terabaikan dalam menyediakan makanan bagi lansia adalah menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Secara alamiah, keinginan untuk makan bagi lansia menurun karena fungsi pencernaannya yang kurang optimal. Suasana makan yang menyenangkan, didampingi oleh anak atau cucu, dan melibatkan lansia dalam proses pembuatannya bisa meningkatkan nafsu makannya.

 

  1. Kebersihan dan keamanan diri dan lingkungan

Kondisi fisik seringkali membatasi lansia untuk memenuhi kebutuhan hariannya sendiri. Untuk mandi, membersihkan kotoran (urine dan feces), bahkan mencuci tangan setelah makan kadang perlu bantuan orang lain. Untuk lansia yang mulai menurun penglihatannya, dibutuhkan bantuan orang lain untuk menggunting kuku, merapikan rambut, juga menyiapkan tempat tidur yang nyaman dan bebas dari benda tajam. Keterbatasan gerak juga membuat perpindahan lansia dari satu tempat ke tempat lain dalam rumah menjadi terhambat. Ketidakseimbangan saat berjalan dan kekhawatiran akan jatuh membuat lansia membutuhkan pegangan. Pastikan posisi kamar dan kamar mandi berdekatan sehingga lansia mudah untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu, upayakan lansia tidak tinggal di lantai dua atau lebih yang membuatnya harus naik turun tangga untuk beraktivitas. Penempatan perabot di rumah juga sebaiknya dikondisikan agar aman dan mudah dijangkau.

 

  1. Kebutuhan istirahat/tidur

Sebagian lansia mengalami gangguan tidur atau biasa disebut insomnia. Insomnia yang dialami bervariasi, ada yang kesulitan mengawali tidur, terbangun di malam hari, juga kesulitan untuk kembali tidur. Kondisi ini diperparah dengan kebutuhan buang air kecil yang meningkat sepanjang malam. Padahal, lansia membutuhkan istirahat yang cukup, yaitu 6-8 jam per hari. Istirahat ini penting untuk mengistirahatkan organ tubuh, juga mempertahankan fungsi otak untuk berpikir, mengingat, dan mengkoordinasikan bagian tubuh lainnya. Untuk mendukung istirahatnya, pastikan lansia tidur dengan kondisi yang nyaman, dengan cara berikut ini :

  • Siapkan kamar yang bersih dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik
  • Sediakan selimut yang hangat atau kipas angin sesuai kebutuhan dan kenyamanan
  • Sediakan air minum di tempat yang mudah dijangkau
  • Biasakan menemani lansia sesaat sebelum tidur untuk berbincang dan memenuhi kebutuhan psikologisnya supaya lansia bisa tidur dengan tenang

 

  1. Aktivitas fisik, spiritual, dan  sosial

Coba kita amati apa yang dilakukan orang tua kita sepanjang hari di rumah? Coba bandingkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan mereka beberapa tahun silam? Apakah ada perubahan?

Keterbatasan fisik yang terjadi menghambat lansia untuk melakukan berbagai aktivitas. Tapi keinginan untuk melakukan berbagai aktivtas seperti saat muda tentu saja ada. Di samping itu, aktivitas fisik, spiritual, dan sosial dapat menjaga kualitas hidup lansia, memperlambat penurunan fungsi otak, dan mencegah kepikunan. Untuk menjembatani kebutuhan dan keterbatasan yang dialami lansia, beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain :

  • Menyimpan alat makan, mandi, dan kebutuhan lainnya di tempat yang mudah dijangkau
  • Menyiapkan alat yang mendukung aktivitas spiritualnya, seperti alat sholat, al-qur’an berukuran besar (sesuaikan dengan penglihatannya), dan media untuk mendengarkan murattal atau ceramah.
  • Memudahkan akses keluar rumah dari kamarnya, agar lansia bisa berjemur di pagi hari, berjalan santai di depan rumah, dan menyapa tetangga.
  • Mencari informasi adanya posbindu, pengajian ibu/bapak, atau kumpul lansia sebagai media interaksi lansia dengan lansia lainnya.

lansia bahagia

  1. Komunikasi dan kasih sayang

Ini poin terpenting yang sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga. Tinggal bersama lansia tak hanya sekedar menyediakan tempat tinggal dan makanan yang layak. Namun, kita merawat fisik dan jiwanya agar senantiasa hidup dan bersemangat selama Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Komunikasi yang dibangun penting karena fitrahnya lansia senang menasihati dan didengarkan. Luangkan waktu secara rutin untuk mendengarkan dan berbagi cerita dapat membantu mencegah kepikunan dan menjaga kesehatan jiwanya. Lansia yang jarang diajak berbincang memiliki resiko stress dan depresi yang lebih tinggi karena perasaan kesepian, kecewa dengan diri sendiri, dan takut akan kematian.

 

Upaya terbaik dalam merawat lansia berpengaruh terhadap kualitas kesehatan fisik dan jiwanya. Saat jiwa tidak terpenuhi kebutuhannya, baik secara psikologis dalam bentuk perhatian keluarga, juga secara spiritual, lansia sangat rentan menghadapi stress. Keadaan ini memicu munculnya berbagai penyakit metabolik dan kronis, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, juga penyakit kanker. Stres juga seringkali menimbulkan munculnya keluhan subjektif seperti jantung berdebar, nyeri atau pegal di beberapa bagian tubuh, mual atau nyeri ulu hati, serta sakit kepala. Untuk mengatasi keluhan dan penyakitnya, banyak lansia yang mengkonsumsi berbagai macam obat karena keinginan sendiri ataupun berdasarkan resep dokter. Sebelum terjebak pada penyakit kronis dan ketergantungan obat-obatan, alangkah baiknya jika kita mengupayakan perawatan yang baik bagi lansia yang tinggal bersama kita. Dengan memenuhi kebutuhan fisik dan jiwanya, semoga bisa menyehatkan para lansia dan menurunkan angka kesakitan. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

 

Ramadhan Sehat, Ibadah Optimal

Standar

Kesehatan adalah kenikmatan yang kadang luput untuk kita syukuri. Keadaan tubuh yang sehat menjadi modal yang utama dalam menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan. Karena saat sakit, kondisi tubuh lemah dan tidak mampu shaum, konsentrasi ibadah yang lain pun menjadi terganggu. Karenanya, bersyukurlah, atas nikmat sehat yang bisa kita rasakan sepanjang Ramadhan, nikmat dalam menikmati berbagai makanan yang masuk ke perut saat sahur dan berbuka, nikmatnya tubuh yang ringan saat rukuk dan sujud, nikmatnya melantunkan ayat suci al-qur’an tanpa suara serak, batuk, atau mata yang perih dan lelah.

Rangkaian aktivitas sepanjang bulan Ramadhan biasanya berbeda dengan hari-hari biasanya. Pola makan yang bergeser menjadi waktu sahur dan berbuka tentu berpengaruh terhadap aktivitas lainnya. Aktivitas malam yang baiknya diisi dengan shalat tarawih/tahajud, tilawah, dan berdzikir serta waktu makan sebelum adzan shubuh berkumandang tentu mengurangi jam istirahat kita. Karenanya, alangkah baik jika kita menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di siang hari dan tidak mengisi waktu malam dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Pastikan malam yang kita lalui di sepanjang Ramadhan optimal untuk beribadah dan istirahat, memenuhi kebutuhan jiwa dan raga kita secara seimbang. Hal ini penting agar kita tetap bisa beraktivitas dengan baik di siang hari meskipun dalam keadaan berpuasa.

Keadaan shaum sejak waktu shubuh hingga petang juga mempengaruhi kecenderungan kita terhadap makanan. Setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, kadang hawa nafsu mendorong kita untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Makan berlebihan, apalagi jika mengandung garam, gula, atau lemak yang tinggi akan menyebabkan kesehatan tubuh menurun. Tubuh menjadi mudah lelah, berat badan tidak terkontrol, serta daya tahan tubuh menurun membuat ibadah kita di bulan Ramadhan menjadi terganggu. Karenanya, bijak memilih asupan saat sahur dan berbuka dapat menjaga tubuh kita agar tetap sehat dan mendukung optimalnya ibadah kita di Bulan Ramadhan.

Gizi Seimbang, Tak Sekedar Konsumsi 4 Sehat 5 Sempurna

Standar

Jika ditanya apa yang disebut gizi seimbang, anak sekolah akan menjawab dengan semangat, empat sehat lima sempurna. Jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada ibu muda yang punya anak usia 6-24 bulan, mungkin akan dijawab menu empat bintang. Tapi, ternyata, konferensi pangan sedunia di Roma pada tahun 1992 merekomendasikan pedoman gizi seimbang yang terdiri dari empat pilar gizi seimbang, menggantikan slogan “4 sehat 5 sempurna” yang sudah sering kita dengar selama ini.

 Apa yang dimaksud dengan empat pilar gizi seimbang?

  1. Mengkonsumsi makanan beragam
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih
  3. Melakukan aktivitas fisik
  4. Mempertahankan dan memantau berat badan normal

4 pilar gizi

Gizi seimbang saat ini tidak hanya didefinisikan dengan apa yang kita makan, tapi mencakup aspek kebersihan yang mendukung pada kesehatan, aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, serta terjaganya berat badan yang ideal. Konsumsi makanan pun ditekankan keberagamannya, karena hal ini mendukung tercapainya kecukupan gizi dan kebutuhan vitamin dan mineral yang terkandung dalam berbagai jenis makanan. Kita harus bersyukur karena Indonesia memiliki banyak variasi pangan, mulai dari karbohidrat, protein, juga sayur dan buah-buahan. Keberagaman ini juga mendukung program diversifikasi pangan yang mendorong masyarakat untuk menggunakan bahan pokok lain seperti ubi, singkong, dan jagung sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi.

Perilaku hidup bersih yang selaras dengan gizi seimbang terdiri dari aspek kebersihan dalam pengolahan pangan, penyajian makanan, serta kebersihan tangan dan alat makan yang kita gunakan. Perilaku hidup bersih dapat menurunkan resiko penyakit infeksi pencernaan dan berbagai penyakit lainnya. Cuci tangan pakai sabun di setiap kali akan bersentuhan dengan makanan dan setelah keluar dari kamar mandi menjadi poin penting dari perilaku hidup bersih.

Perkembangan teknologi saat ini berpengaruh terhadap aktivitas fisik yang rendah. Berbagai alat elektronik diciptakan untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, juga membuat kita jarang berpindah tempat atau bergerak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Akhirnya pola hidup ini membuat sebagian manusia mengalami kegemukan dan meningkatkan resiko berbagai penyakit metabolik, seperti darah tinggi, hipertensi, dan penyakit jantung.

Berat badan yang ideal menjadi cerminan dari keseimbangan gizi, dimana konsumsi makanan kita sesuai dengan kebutuhan kita. Penambahan dan pengurangan berat badan masih wajar terjadi dalam rentang berat badan yang ideal. Untuk menghitungnya, kita bisa menggunakan rumus indeks massa tubuh (IMT), yaitu

  IMT = Berat badan (kg) / [ tinggi badan (m) x tinggi badan (m)]

obesitas

Jika indeks massa tubuh kita kurang dari yang seharusnya atau melebihi batas normal, alangkah baiknya bila kita mulai mengoreksi pola makan dan aktivitas kita sehingga tercapai kecukupan gizi dan berat badan yang ideal

 

Mengajarkan Toilet Training pada Anak

Standar

Melatih si kecil menggunakan toilet dan meninggalkan kebiasaannya menggunakan popok merupakan salah satu hal menantang yang harus dilalui oleh setiap orangtua. Sayangnya, sebagian orang tua kurang menyadari kapan waktu yang tepat untuk mulai membiasakan anak berhenti menggunakan popok lagi. Padahal, proses memahamkan anak tentang toilet training ini membutuhkan waktu yang lama, kesabaran yang ekstra juga trial and error yang bisa terjadi berulang kali. Karenanya, makin baik pengetahuan ayah bunda tentang toilet training, makin mudah mengupayakannya. Jangan sampai terlambat ya..^-^

Pastikan balita siap. Sebagian besar anak menunjukkan tanda-tanda kesiapannya di usia antara 18-24 bulan, namun ada beberapa anak yang lebih awal atau lebih lambat dari itu. Biasanya anak laki-laki membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mempelajari toilet training dibandingkan anak perempuan. Yang terpenting adalah dianjurkan agar orang tua mengenali tanda-tanda kesiapan buah hatinya. Umumnya balita bisa diajak toilet training setelah otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih, ditandai dengan popoknya yang kering selama 2-3 jam. Kesiapan iniditunjang dengan kemampuannya untuk dapat duduk tegak, membuka-memakai celana, memahami intruksi sederhana dan sudah bisa mengatakan keinginannya.

Biasakan kegiatan kamar mandi. Mulai kenalkan dan biasakan ia buang air kecil dan besar di pispot atau potty chair. Biarkan ia merasa nyaman menggunakannya. Ceritakan secara sederhana cara buang air kecil dan besar serta proses memakai pispot atau toilet, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, dan belikan ia celana dalam sebagai ganti dari popoknya sehingga dia merasa sudah cukup besar.
Anda pasti bisa mengenali kapan si kecil merasa ingin buang air kecil. Bila sudah terlihat tanda-tanda ia ingin buang air, ajak si kecil ke toilet. Meskipun dia belum akan pipis, tapi kamar mandi akan mengingatkan ia serta memberi sugesti untuk buang air kecil. Jika ia terlanjur mengompol di celana, jangan pernah memarahinya, tapi ajaklah ke toilet untuk membersihkannya, agar ia bisa mengerti bahwa kotoran harus segera dibersihkan dan dibuang ke toilet.

Atur jadwal. Mengatur asupan cairan dan makanan ke tubuh balita diperlukan untuk mengatur interval ke kamar mandi. Amati jadwal siklus buang air kecil dan besarnya, misalnya ia biasa pup sekitar jam 9 pagi dan pipis 1 jam sekali. Siklus pipis dan bab ini memudahkan Anda mengajaknya menyalurkan dorongan bak dan bab di tempat dan waktu yang tepat. Bangun juga kebiasaan-kebiasaan kecil untuknya, misalnya saat ia baru bangun tidur dan akan tidur, ajaklah ia untuk pergi ke toilet dulu. Hal ini akan menjadi rutinitas baru baginya.

Konsisten. Pastikan pula anggota keluarga lain mampu secara konsisten melaksanakan pelatihan yang Anda terapkan bila anda sedang tidak bersama si kecil. Beri informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipisnya. Konsisten membimbing balita akan membuatnya cepat paham dan makin terampil memakai toilet.

Pakai cara seru. Lambungkan kreativitas Anda untuk mengajak balita melakukan toilet training agar lebih seru. Anda dapat memasang memasang papan target untuk balita menempel stiker tanda berhasil memakai pispot/toilet dengan benar. Atau menempatkan boneka favorit sebagai teman ketika pipis atau pup agar ia gembira dan selalu bersemangat melakukan toilet training.

Beri pujian. Hadiahi dengan pujian ketika ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar, karena hal tersebut akan membuatnya merasa senang dan semakin termotivasi. Jadikan toilet training sebagai sesuatu yang penting dan terbaik dalam hidupnya. Kalaupun terjadi ‘kegagalan’ hindari untuk menghukumnya. Wajah marah dan kecewa Anda, hanya akan membuatnya takut dan malah lebih sering tidak mau mengatakan bahwa ia ingin pipis atau pup.

Usahakan Tetap Santai dan Tidak Emosi. Jangan terlalu menekan si kecil agar lulus toilet training secepatnya. Jika ia melakukan kesalahan, jangan pernah memarahinya, karena sebagai orangtua harus bisa mengerti dan memahami anak ketimbang memberikan perintah-perintah.

Melatih Kecerdasan Anak Lewat Permainan

Standar

Buah hati anda senang melempar, membenturkan, pukul-pukul, menjatuhkan mainan serta benda-benda yg ditemuinya? Tak hanya mainan, kadang barang-barang lain di rumah pun jadi korbannya. Bingung dengan tingkah laku si kecil dan caranya memperlakukan barang-barang di sekitarnya? Jangan khawatir, bunda, semua itu adalah proses bagi si kecil untuk menyempurnakan potensi kecerdasannya. Ayah bunda yanng cerdas dalam menyikapinya akan menjadi kesempatan bagi buah hati kita untuk mencapai tingkat kecerdasan, baik intelektualitas, emosional, dan sosialnya dengan sempurna di usia dini. Yuk kita sama-sama belajar tentang pentingnya bermain bagi buah hati kita..

Bermain bisa diartikan dengan banyak hal. Makna yang paling pas adalah aktivitas yang dikerjakan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa memperhitungkan hasil akhir. Bermain dikerjakan dengan senang, rela, serta tanpa paksaan atau tekanan dari luar atau keharusan.
Anak akan mengalami 4 fase bermain, yaitu :
1. Fase Memberi Nama
Sebelum anak bisa berbicara dan memberikan nama pada mainannya sendiri, ayah bunda yang bisa berperan penting dalam mengenalkan nama pada tiap mainan atau benda yang ada di sekelilingnya. Hal ini dapat membantu anak untuk membedakan serta mengelompokkan benda yang ada di sekitarnya.
2. Fase Memegang
Berikanlah peluang pada anak untuk memegang mainan atau benda-benda di sekelilingnya. Memegang berbeda dengan menyentuh. Memegang berarti memberikan kuasa penuh anak untuk menyentuh, meremas, membawa, menjungkir balikan, membenturkan, dan sebagainya. Dengan memegangnya sempurna, anak bisa memperoleh gambaran menyeluruh tentang bahan, struktur, volume, tekstur, massa dari tiap-tiap benda.
3. Fase Eksplorasi
Inilah fase yang dapat bikin Orangtua mengelus dada. Anak akan mengeksplorasi apa yang dia temui dengan cara dibentur-bentur, dilempar, dijatuhkan, digigit-gigit, diduduki, dan sebagainya. Kadang kita khawatir berlebih ketika benda tersebut diperlakukan secara berlebihan atau tidak tepat oleh anak. Namun, tiap-tiap anak perlu melalui fase ini untuk mengetahui benda-benda di sekelilingnya, diawali pada umur satu tahun dan bertahan sampai usia 3 tahun. Tidak terpuaskannya anak pada fase ini dapat mengakibatkan hutang perkembangan di periode dewasa, dimana mereka akan menunjukan emosinya dengan melempar atau merusak barang-barang yang ada di sekelilingnya.
Cara lain bagi anak dalam mengeksplorasi benda yang dia temui adalah dengan mengkreasikan manfaat dari benda-benda tersebut. Misalnya, botol air mineral tidak hanya berperan jadi wadah, tapi dapat juga jadi mobil-mobilan atau gagang telephone atau sesuatu microphone.
4. Fase Bermain.
Sesudah memasuki umur 4 tahun. sampai puncaknya diantara 5 sampai 6 tahun, anak dengan sendirinya dapat memasuki fase ini. Fase bermain didefinisikan sebagai kemampuan mendayagunakan benda sesuai dengan fungsinya. Mobil-mobilan dapat dipakai mengangkut penumpang atau diajak berkendara, boneka bermacam-macam ukuran dapat dikira sebagai rekan sepermainannya, dan lain-lain. Di periode inilah tipe permainan yang cocok dengan jenis kelamin bisa efisien diperkenalkan. Pada periode ini, anak-anak kita mulai bermain dengan semestinya, menyukai mainan serta memperlakukannya dengan sesuai.
Yuk sekarang kita lihat sudah sampai mana fase bermainnya anak kita. Sudah sesuaikah dengan usianya? biarkan mereka bermain sepuasnya, karena masa kanak-kanak adalah masanya bermain..

Perawatan Bayi Baru Lahir

Standar

Menyambut sosok mungil nan lucu sebagai penghuni baru di rumah kita pastilah menyenangkan. Tidak hanya ayah bunda, biasanya kakek, nenek, dan om tantenya ikut heboh menyambut kehadirannya dan menikmati kelucuannya. Tapi, buah hati kita tentu bukan sekedar mainan yang hanya untuk dimainkan, dia harus dirawat, dijaga kebersihan dan kesehatannya, diberi makan, dan diasuh dengan baik. Merawat bayi yang baru lahir susah-susah gampang, khususnya buat yang pertama kali punya momongan. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan supaya ayah bunda bisa merawat buah hati anda dengan baik dan benar.

1. Si kecil menangis karena lapar. Pada bulan-bulan pertama, lapar adalah penyebab utama bayi menangis. Karena itu, menawari bayi menyusu adalah cara paling efektif untuk menghentikan tangisnya, meski itu berarti Anda harus menyusui bayi sesering mungkin; pagi, siang, sore dan malam. Mengapa bayi makan lagi makan lagi? Ini karena rasa lapar adalah sensasi baru baginya. Di rahim ibu bayi terbiasa menerima asupan makanan terus-menerus dari plasenta, sehingga tidak pernah merasa lapar.

Ketika lahir ke dunia, sistem pencernaan bayi belum terbiasa untuk mencerna makanan dalam jumlah besar, kemudian “kosong” beberapa waktu. Untuk membantu bayi beradaptasi dengan perbedaan ini, pada minggu-minggu pertama Anda tidak perlu menjadwal jam makan bayi. Berilah dia makan sesering mungkin. Jadwal makan bayi akan terbentuk di usia kira-kira lima minggu.

2. Kapan si kecil buang air? Pipis dan BAB bayi baru juga belum terjadwal. Tetapi sering buang air adalah hal yang baik, pertanda bayi cukup makan. Jangan tunda mengganti popoknya, agar bayi tidak menangis karena basah dan tidak nyaman. Amati juga air seni dan fesesnya karena keduanya bisa menjadi alat ukur kondisi bayi, misalnya, air seni yang terlalu kuning menandakan bayi kurang cairan. Feses bayi yang mendapat ASI ekslusif lebih lunak dan tidak terlalu berbau. Setelah bayi pipis atau BAB, segera bersihkan alat kelaminnya. Bubuhi bokong dan selangkangannya dengan krim untuk menghindari ruam popok.

3. Pakaian nyaman bagi si kecil. Apa iya, bayi baru lahir harus dibedong sepanjang hari? Apa betul bajunya harus berlapis-lapis dan selalu pakai selimut? Ayah bunda, iklim tropis di negara kita sebenarnya tidak cocok dengan pakaian bayi gaya dibuntel-buntel. Saat udara panas dan bayi berada di ruangan non-AC, coba cek belakang leher bayi, jika terasa panas dan lembab, berarti dia kegerahan. Jika demikian, singkirkan alas tidurnya dan ganti bajunya dengan yang lebih ringan. Pastikan pakaian bayi terbuat dari bahan alami, seperti katun 100%, yang menyerap keringat, mudah dicuci dan disetrika. Panduan berbusana untuk bepergian lain lagi. Kenakan mantel atau cardigan, kaos kaki, sepatu dan topi untuk mencegah dia masuk angin.

4. Kosmetik si kecil. Kosmetik bayi banyak macamnya, ada baby bath, baby shampoo, baby oil, baby lotion, baby powder, baby cream, baby cologne dan hair lotion. Sebenarnya tidak semuanya dibutuhkan oleh bayi, jadi bijaksanalah dalam memilih. Apa pun mereknya, gunakan produk yang sudah teruji secara klinis atau Clinical Proven Mild (CMP). Jika bayi bereaksi negatif saat dipakaikan kosmetik tertentu, misalnya timbul bercak-bercak merah di kulit, maka kemungkinan ia alergi pada kandungan kosmetik tersebut. Hentikan pemakaian.
Beralihlah pada kosmetika bayi yang bebas bahan kimia (green product). Masih berhubungan dengan meminimalkan persentuhan bayi dengan bahan kimia, hindari juga menggunakan produk pengharum atau pelembut pakaian. Bahan kimia di dalamnya terlalu “kuat” dan bisa mengiritasi kulit bayi.

5. Apa yang tidak disukai si kecil? Kebanyakan bayi tidak suka acara lepas-pakai baju, mandi, keramas, diberi obat tetes mata dan tetes hidung. Bisa-bisa dia mengamuk! Solusinya, lakukan kegiatan ini dengan cepat, namun tetap hati-hati. Alihkan perhatian bayi dengan mengajaknya bercakap-cakap, memberi pelukan dan ciuman.

6. Lingkungan nyaman bagi si kecil. Penting menciptakan lingkungan yang nyaman bagi bayi. Usahakan lingkungan bayi tidak terlalu ramai atau berisik, terlalu dingin (kurang dari 20 derajat Celcius) atau terlalu panas (lebih dari 31 derajat Celcius). Bayi juga bisa rewel karena silau, karena itu pastikan cahaya lampu atau sinar matahari tidak jatuh tepat ke matanya. Lingkungan yang nyaman juga berarti bebas gigitan nyamuk dan serangga. Tidak dianjurkan menggunakan obat pembasmi serangga di kamar bayi karena racunnya bisa menempel di barang-barang bayi. Gunakan saja kain kelambu.

7. Mainan si kecil. Fungsi mainan bukan cuma menghibur tetapi juga mengenalkan bayi pada berbagai bentuk dan melatih otot matanya agar lebih terfokus. Untuk itu, pilihlah mainan dengan warna-warna cerah. Mainan bergerak dan berbunyi (musical mobile) yang digantung di tempat tidur akan merangsang indra penglihatan dan pendengaran bayi. Beruang Teddy yang lembut menyenangkan bayi saat ia merabanya. Rattle, mainan genggam yang berbunyi jika digoyang, juga menghibur dan melatih indra bayi. Tetapi tidak selalu harus mainan mahal, lho. Bayi juga sangat terhibur melihat pantulan dirinya di cermin, bayangan di tembok dan tetes hujan. Dan, tentu saja tidak ada yang lebih menggembirakan bayi dibanding saat ia bermain dengan ayah dan bundanya.

8. Jam Tidur si kecil. Total waktu tidur bayi baru adalah 16 jam sehari, dengan tidur malam yang gelisah, diselingi beberapa kali bangun. Setelah usia 5 minggu, barulah bayi memiliki pola tidur tetap, yaitu tidur lebih awal di malam hari dan terbangun 2 – 3 kali di tengah malam. Ritual tidur bisa membantu bayi tidur lebih cepat dan berkualitas. Tahapannya, mandikan bayi dengan air hangat yang sudah ditetesi baby bath, pijat bayi dengan baby oil atau lotion, setelah itu ciptakan suasana tenang di kamar tidurnya. Anda bisa membacakan dongeng, menyanyikan lagu atau membubuhi bayi dengan baby powder. Gunakan produk bayi yang harumnya menenangkan, namun aman dan teruji secara klinis atau Clinically Proven Mild (CMP).

9. Kenali Penyakit Si kecil. Kolik, ruam popok, hidung mampet, infeksi mata, lidah berjamur dan demam pasca imunisasi adalah beberapa penyakit langganan bayi baru lahir. Saat mengalaminya, bayi akan rewel dengan tangis yang tidak biasa. Cepat cari tahu dan atasi. Jika si kecil ruam popok, buka popoknya, bersihkan, dan biarkan dia tanpa popok – diangin-angin – sementara waktu. Hidung mampet, infeksi mata, demam pasca imunisasi dan lidah berjamur dapat diantisipasi dengan resep obat dari dokter. Sedangkan kolik yang umumnya tidak dapat disembuhkan, bisa diatasi dengan menciptakan kondisi yang nyaman bagi bayi dengan diayun-ayun, disusui, atau diusap-usap perutnya.

10. Orang-orang di Sekitar Bayi. Bayi memang menggemaskan, tetapi, perlakukanlah dia sewajarnya. Jika terlalu banyak orang yang menggendong dan mengajak bercanda, jika sedikit-sedikit pakaiannya diganti, sedikit-sedikit diberi makan, atau jika Ayah dan Bunda bereaksi berlebihan terhadap tangisannya, bayi bisa stres juga. Selain itu, perasaan bayi yang halus membuatnya dapat “menangkap” suasana hati bunda sebagai orang terdekatnya. Ketika mood ibu jelek akibat kelelahan misalnya, bayi bisa tahu dan dia pun ikut-ikutan rewel. Jadi, jagalah suasana hati Anda di dekat bayi. Kalau perlu istirahat, serahkan bayi pada pengasuh lainnya di rumah.

Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Standar

Momen memberi makan si kecil setiap hari kadang bisa jadi sangat menyenangkan karena anak makan dengan lahap, bisa juga jadi waktu yang paling melelahkan, baik buat ayah bunda maupun si kecil. Ada saat dimana si anak tidak mau sama sekali makan, menutup mulutnya rapat-rapat atau berlari-lari kesana kemari saat disuapi. Kondisi ini bisa terjadi sesekali, namun banyak juga ayah bunda yang harus mengalami hal ini setiap kali waktu makan tiba. Padhal, nutrisi yang terkandung dalam makanan sangat dibutuhkan anak untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Karenanya, penting bagi ayah bunda buat mengenali penyebab anak sulit makan dan cara mengatasinya.

Secara umum, ada dua penyebab utama anak sulit makan, yaitu penyebab organik dan non organik. Sebab organik merupakan sebab yang berhubungan dengan organ makan anak, misalnya : sariawan, tumbuh gigi, radang, dll. Sebab non organik meliputi keadaan psikologis anak, suasana hati anak dan ayah bunda, suasana lingkungan, dll. Cek dulu, mungkin saja anak sedang sariawan atau mau tumbuh gigi lalu sesuaikan makanan yang bisa menyamankan dan memenuhi kebutuhan gizinya.

Banyak hal yang dilakukan anak untuk menunjukan bahwa dirinya tidak mau makan.

– Menolak MPASI hanya mau ASI/Susu Formula
Jika menghadapi kondisi seperti ini, pemberian makanan secara bertahap harus dirancang. Memang waktu makannya jadi jauh lebih lama. Misalnya, berikan 1 sendok MPASI setiap jadwal makan tiba dengan konsentrasi makanan yang lebih cair. Setiap hari porsi ini harus ditingkatkan, dari 1 sendok menjadi 2 sendok hingga akhirnya mencapai 1 mangkuk. Konsistensinya juga sebaiknya ditingkatkan secara perlahan. Setiap minggunya coba disajikan makanan yang sedikit lebih kental dibandingkan sebelumnya. Perlu diingat, jadwal makannya pun harus diberikan secara konstan dan berkesinambungan. Mengapa ini penting? Supaya si kecil bisa dikenalkan dengan keteraturan untuk membentuk kedisiplinan.

– Dilepeh
Jika ini terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 8 bulan, kemungkinan besar terjadi karena refleks anak. Akan tetapi, untuk bayi di atas 8 bulan, ayah bunda yang harus cermat. Apa karena makanannya terlalu asin, terlalu lembek, terlalu banyak, makanannya tidak enak, dan sebagainya. Agar si kecil tidak melakukan penolakan, pandai-pandailah mengatur strategi dengan memvariasikan menu makan anak. Penyajian makanan yang menarik juga penting. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

– Diemut
Anak yang makannya ngemut umumnya karena alat-alat pencernaan di rongga mulutnya belum siap menerima makanan yang terlalu keras atau padat. Ada juga kebiasaan ngemut anak karena asyik bermain hingga lupa masih ada makanan didalam mulutnya atau membiarkan makanannya tanpa upaya untuk mengunyah.
Tips mengatasinya :
• Tunjukkan padanya bagaimana cara mengunyah yang benar, yaitu perlahan-lahan dengan menggerakkan rahang atas dan rahang bawah.
• Bila anak terlalu asyik bermain sehingga lupa mengunyah, minta anak berhenti bermain sampai aktivitas makannya selesai. Jika itu terlalu sulit diterapkan, coba bagi makanannya menjadi beberapa porsi kecil, lalu minta anak untuk menghabiskan 1 porsi sebelum bermain lagi. Tentukan waktu main tidak terlalu lama, misalnya 5 menit, lalu ia harus masuk ke proses makan satu porsi lainnya, dan seterusnya.
• Biasakan anak makan di meja makan tanpa disertai aktivitas lain, seperti nonton TV. Jadikan Nonton TV atau bermain sebagai hadiah setelah ia selesai makan.

– Disembur
Penyebabnya antara lain makanan terasa asing di lidahnya, bosan dengan makanan tersebut, ingin mendapat perhatian dari orang disekelilingnya, atau sekedar suka dengan suara yang ditimbulkan saat menyembur makanan.
Tips Mengatasinya :
• Tak perlu memberi reaksi berlebihan bila si batita menyemburkan makanannya apalagi memarahi. Jangan pula mentertawakan. Lebih baik tanyakan apakah makanannya kurang enak. Kalau ya, lebih baik ganti dengan makanan sejenis. “Oh, Adik enggak mau makan nasi hari ini? Mama punya kentang. Enak, deh!”
• Sebelum mengganti, ajak dia berjanji untuk tidak menyemburkan lagi makanannya. Jika masih tetap menyemburkan makanan penggantinya, tarik dulu makanan tersebut selama sekitar 30 menit, baru kemudian diberikan lagi. Kemungkinan ia sedang tak ingin makan.
• Bila merupakan bagian dari eksplorasinya, katakan pada si kecil, “Lucu, ya, Dek, bunyinya. Tapi makanan itu nanti harus ditelan ya.” Bila si batita melakukannya karena iseng, beri penjelasan bahwa makanan bukan mainan, jadi tak boleh disembur-semburkan. Jangan bosan untuk terus-menerus menjelaskannya pada si kecil agar perilaku ini tak terus berlanjut.

– Dimuntahkan
Perilaku memuntahkan makanan bisa akibat penolakan atau karena adanya masalah pencernaan yang dirasakan anak. Jika muntah disebabkan karena si kecil mencari perhatian dalam mengeskpresikan ketidaksukaannya pada makanan itu, baru bisa dikategorikan sebagai penolakan. Untuk memastikan penyebabnya, orang tua dapat memperhatikan kondisi anak. Misalnya apakah rewel atau tidak selagi muntah maupun sesudah muntah, demam atau tidak, dan apakah disertai gangguan lain semisal diare atau tidak. Jika jawabannya memang ya, kemungkinan si kecil mengalami masalah fisik dan ini sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahlinya.

– Menolak sama sekali
Wujud penolakannya bisa berupa memalingkan kepala, menutup rapat-rapat mulutnya, sampai menangis keras setiap kali disuapi. Penyebabnya lebih banyak karena faktor fisik, seperti sariawan atau radang tenggorokan. Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda tadi, cermati dulu kondisi kesehatannya secara umum. Pastikan apakah ia sariawan atau tidak, gunakan termometer untuk memastikan suhu tubuhnya, apakah kondisi lidahnya bermasalah atau tidak, bibirnya pecah-pecah, dan buang airnya lancar atau tidak. Kalau benar karena kendala fisik, segera konsultasikan ke dokter.
Jika tak ada gangguan fisik kemungkinan besar si kecil melakukan gerak tutup mulut karena faktor psikis. Tidak tertutup kemungkinan ia memang tengah mencari perhatian orang tuanya yang sudah sepanjang hari tidak dijumpainya, tak menyukai menunya, atau penampilan makanannya membuat anak kehilangan selera makan.